Jumat, 17 Mei 2013

CHUSNIA ILMA FRANCHOISE



Chusnia Ilma Franchoise,
Dulu pernah kudengar nama itu ketika aku mengungkapkan rasa lewat pesan singkat kepadanya. Lalu nama itu terulang kembali setelah hubunganku dengan dia berumur 2 bulan 15 hari.
Mungkin aku yang terlalu polos atau dia yang terlalu baik. Aku tak mengerti beberapa pesan darinya yang menyebutkan kalimat ‘sahabat saling menjaga’ yang dikutip dari Chusnia Ilma Franchoise. Aku masih tak curiga atau bertanya. Aku hanya rasa bahagia karena agenda liburan bersamanya hari Rabu kemarin. Setelah lama aku membaca dan memahami pesan-pesan yang berisi kalimat filosofis, hatiku merasa ada yang aneh.
“Maksud pesan-pesan kamu kemarin apa? Aku tak mengerti, dan ada beberapa nama yang tak asing lagi di telingaku” Tanyaku.
“Sahabat saling menjaga (^_^)” jawabnya singkat.
Dan masih aku tak memahami maksud dia sebenarnya. Aku hanya anggap bahwa dia ingin bersahabat juga denganku. Sampai hari itu datang. Hari di mana aku tak mampu membendung air mataku.
Ketika dia katakan ingin bersahabat dulu denganku. Dia rasa hubungan yang dijalani denganku masih belum saling mengenal. Aku masih mengiyakan arah pikiran dan keinginan dia.
Tepat hari Selasa pagi, aku disibukkan dengan hiruk pikuk agenda bulan bahasa di kampus. Aku mendapat tamparan keras dari handphone yang berdering. Kubaca pesannya yang menegaskan hubunganku dengan dia hanya sebatas sahabat. Wanita mana yang tak menangisi itu semua. 75 hari berlalu dengan hubungan yang maya.
Aku berlari ke ruang sebelah. Stefa dan Mery menyambutku dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengurai air mata.
“kakak.... ada apa? Ada apakah dengan Awanmu?” Tanya stefa.
Aku masih bisu dan tak kuasa menahan isak  tangisku. Ku raih ponsel di saku dan kuberika kepada mereka. Biar mereka membaca dan tahu alasan air mata ini keluar.
“Ya Allah kak diza, sabar ya! Kenapa di tengah-tengah kaya gini dia baru membahas tentang ilma. Ini nggak adil kak...” jelas Mery.


“Rasanya nyeseg banget kak, aku baru sadar bahwa ini semua adalah pangkal dari pesan-pesan filosofis dia kemarin. Ya Allah, bodoh sekali aku ini baru menyadarinya” Kataku.
“coba nanti malam kamu telfon dia, luruskan semua ini agar semua menjadi jelas. Kamu nggak sedih kaya gini. Ingat, kamu harus memperjuangkan hubungan yang udah kamu rajut” Saran Stefa.
Aku tak menjawab apa pun. Hanya anggukan kepala yang mengisyaratkan. Aku masih mencoba menata hatiku. Kusempatkan pikiran dan hatiku untuk tetap berpikir positif terhadap dia. Sampai detik ini aku memang tak mampu berpikir jahat. Apa ini karena cinta? Entahlah, cinta ini memang gila.
“Iya... mungkin dia masih trauma dan dia nggak mungkin menyakiti perasaanku. Dia adalah orang yang mulia hatinya” kataku dalam hati yang mencoba meredamkan luka.
Malam pun datang perlahan. Aku telah siapkan kata untuk bicara. Malam itu aku dan dia berargumen perasaan. Sesakit apa pun kata dia harus aku telan. Karena aku telah memilih untuk mencintai dia. Sampai akhirnya dia katakan sesuatu yang sangat menusuk hati.
“aku masih sulit untuk membuka seseorang yang baru. Sampai saat ini belum aku temukan figur seperti Ilma, dan baru aku temukan di angkatan semester 1, Rahma. Itulah figur secara fisik Ilma. Jika kamu memiliki aku, bolehkah aku juga miliki Rahma?” katanya dengan begitu rinci tentang Ilma.
Aku masih tak mengerti maksud dari kata itu, meski aku tak mengerti namun aku merasa kata-kata itu sangatlah menyakitkan. Tak perlulah dia tahu seberapa sakitnya rasa yang aku rasa malam itu.
untuk menjabarkan semua rasa dan kata memang perlu bicara empat mata. Aku dan dia mengagendakan untuk bicara dari hati ke hati agar semuanya jelas. Dan aku menuggu hari itu dengan segala harapan dan doa.
“ya Allah, aku tak perlu khawatir karena Engkau selalu ada di hatiku. Berilah kesabaran untuk bertahan. Engkaulah maha tahu niat hambaMu ini. Lindungilah hamba yang tak mampu berpikir jahat.. amin” pintaku dalam hati di setiap celah kegelisahan.
Menunggu 2 hari untuk agenda bertemu rasanya sangat lama. Aku dan perasaanku benar-benar tak ada arah. Binar mataku pun tak bisa berbohong. Seakan memberikan tanda ada yang kecewa.
***

“kutunggu di perpus pusat jam 3 sore” message darinya.
Saat itu aku sedang kemas-kemas bazar di gedung kesenian. Setelah selesai aku bergegas menuju ke perpus. Sesampainya si sana aku melihat tempat yang koranya masih kosong dan aman untuk bicara empat mata.
“aku udah di pepus, di dekat rak buku Fakultas Bahasa” kataku di message.
“okay aku meluncur” jawabnya.
Akhirnya kita bertatap muka. Aku tak tahu memulai dari mana. Dia yang memulai. Kudengar semua tentang ilma dan cerita lalunya
Ilma.... dia adalah mantan biarawati, dia merupakan keturunan dari Pracis dan Thioghoa. Sebelumnya Ilma bernama Marie Xaveria Valentienne Franchoise. Setelah masuk islam namanya berubah menjadi Chusnia Ilma Franchoise.
Awan menegenal sosok ilma pada tahun 2008 di dunia Guide. Entah berapa lama mereka menjalin hubungan. Sampai akhirnya Ilma menikah dengan Mr Adrian dan menetap di Singapore.
Pada Bulan Februari 2011, Ilma mengirimkan surat ke Awan yang isinya meminta saran untuk nama bayi yang akan dilahirkannya. Awan benar-benar cinta mati dengan Ilma. Mungkin Ilma juga begitu. Entahlah. Tak ada yang tahu. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.
“ aku benar-benar gila, aku tak bisa lepas dari masa lalu itu” katanya
“apa kamu pernah ungkapkan semua ini ke Ilma setelah dia menikah?” kataku
“iya pernah, bahkan berulang kali”jelasnya
“jika dia bercerai, di mana pun dan kapan pun aku akan menjemputnya” tambahnya.
Aku masih mencoba biasa dan menahan segala luka dan lara yang kurasa. Tujuanku di sini, di hadapannya untuk menyelesaikan masalah. Tak bisa aku hindari, sesekali dalam obrolan itu aku terdiam. Bukan aku yang tak bisa bicara. Aku hanya menahan air mata agar tak terjatuh.
“aku mau hubungan kita tetap berjalan sampai akhirnya kamu bisa melupa. Aku yakin kamu bisa jika berusaha” kataku lirih.
“jujur, saat ini aku sedang berada di persimpangan. Saat ini orang tuaku ingin menjodohkan aku kembali” katanya.
       “kamu pasti bisa melalui ini semuanya. Cobalah dan niatkan lah untuk bangkit membuka lembaran yang baru. Aku akan membantumu. Aku tak mau cerita yang kita jalani berhenti di tengah jalan. Sulit sekali memberhentikan perasaanku” jelasku meminta.
       “ Baiklah, satu yang aku inginkan. Jika kamu miliki aku, bolehkah aku memilliki Rahma juga. Hanya dengan cara itu aku bisa mengembalikan jati diriku yang dulu” jawabnya.
       “maksudnya gimana? Apa kamu ingin menjalin hubungan dengan Rahma?“ Tanyaku.
       “Mungkin suatu saat nanti” jawabnya.
       “Ya Allah, ya Tuhanku.... apa yang sebenarnya aku dengar ini. Apa ini semua hanya mimpi buruk? Aku benar-benar tak sanggup untu mendengar semua ini. Ini terlalu menyakitkan ya Allah. Tahukah dia kalau hatiku ini teriris-iris” Batinku.
       Namun aku tak akan ungkap semua jeritan hatiku. Aku masih menahan air mata. Sekuat tenaga aku menahan sakit ini dan tetap tegar berkata.
“lalu gimana dengan hubungan kita? Gimana dengan aku?” Kataku lirih dan mengiba.
“itu pertanyaan yang paling aku takutkan, dan terucap juga. Sulit sekali aku menjawab. Berilah waktu untuk berpikir dan menjawab” jelasnya.
       “iya, baikklah. Kutunggu jawabnya”. Kataku.
Obrolanku dengan dia telah usai. Senja mulai menyapa. Dia yang mengajak untuk cukupkan obrolan itu. Aku juga udah gak kuat menahan tangis.
“makasih ya....” salam pamitku sebelum aku melajukan motor.
Aku segera meninggalkan tempat itu dengan melaju cepat dan cepat sekali. Aku menghendaki sesuatu terjadi padaku. Braaaak dan akhirnya aku terjatuh. Untung saja aku masih bisa menahan motor agar tak terjatuh. Kurasa pinggulku nyeri, nyeri sekali.
Sesampai di rumah kulihat pesannya di Hp. Aku belum siap untuk membalsnya. Aku masih sibuk menahan dan menyembunyikan rasa nyeri di pinggulku. Aku tak mau Ibuku tahu tentang ini. Sudah berapa kali aku terjatuh dari motor.
Semua ceritanya tadi masih terasa jelas ngilu di hati. Ilma, ilma, dan Ilma. Sesakit apapun yang kurasa aku masih belum sangggup untuk berpikir jahat. Aku merasa harus menolongnya untuk keluar dari lingkaran masa lalu, yaitu lingkaran Ilma.
Kutata nafas dan perasaanku sebelum aku membalas pesannya di Hp. Kujelaskan segala rasa di dadaku saat aku mendengarkan ceritanya tadi. Hal yang paling nyeseg, yaitu ketika dia katakan ingin menjemput ilma kalau ilma bercerai.
“Apakah dia sama sekali tak peduli dengan rasa sakitku? Tidak... tidak... dia hanya ingin katakan apa yang sebenarnya. Agar aku tak terluka terlalu dalam” kataku dalam hati. Itulah pikiranku yang tak pernah bisa menyalahkan.
Obrolan di message Hp semakin alot dan akhirnya dia memilih untuk berada diam tanpa menentukan arah. Arah hubungan ini. Apapun status hubunganku dengan dia sekarang aku masih dengan perasaan yang sama.
***
Semenjak itu aku dan dia semakin jauh dan kurasa dia semakin acuh. Dingin dan lebih dingin dari kutub sikapnya kepadaku. Aku semakin shock saat kuterima pesan darinya.
“satu musim ini akan aku gunakan untuk membersihkan nama baikku. Semua dugaan dan rumor tentang kita telah didengar oleh teman-teman di BEM” messagenya
“semua tak seburuk itu, semoga semua baik-baik saja. Setelah satu musim itu kita tetap sahabatkan?” jawabku
Aku ikuti arah keinginannya. Jika dia mengingikan persahabatan, tak apalah. Aku udah putuskan untuk menerima segala yang dia inginkan. Apa pun rasa yang kudera, biarlah aku rasa. Jika rasa itu sakit, yang sakit juga diriku sendiri kan??
Semakin hari semakin kurasa ada yang beda dengan dirinya dan suasana kampus saat aku bertemu dengan dia. Kurasa aku perlu katakan sesuatu kepadanya. Diam tak bisa menyelesaikan masalah. Momen KKN yang akan aku jalani dengan dia pasti terasa beda jika aku hanya diam.
“sebelum KKN dimuali, jika dirasa aku menjengkelkan dan menyebalkan, maafkanlah” kataku di message.
“iya sama-sama sahabatku” jawabnya singkat.
“semoga KKN-nya nanti menyenangkan” tambahku
“Semoga persahabatan ini tak pudar termakan waktu dan persoalan apapun” katanya lagi.
Kini aku tahu apa yang ada di pikirannya. Aku juga tahu bagaimana aku harus bersikap. Kusadari ceritaku bersamanya tidak berakhir tetapi berubah menjadi Sahabat. Kurasa hanya itu. Iya, hanya itu selebihnya masih sama. Segala rasa yang kurasa di hati masih sama. Aku masih mencintainya. Bukankah cinta itu tulus tanpa harapkan sesuatu. Aku mencintai dia tulus apa adanya. Aku tak mengharapkan dia mencintaiku juga. Karena cinta itu tulus.
Hari telah berlalu dengan suasana yang berbeda. Kurasa dia sekarang lebih ramah dari biasanya. Kulihat matanya menyapa tanpa beban dan tekanan. Dan aku suka melihatnya seperti itu.
***
Sahabatku, aku akan membantumu untuk temukan apa yang membuatmu bahagia. Bahagia adalah membuat kamu bahagia. Itu lebih dari cukup...
(tweet diza_helga)

Katakanlah dan ceritakan apa yang sedang kau rasa, percayalah aku akan mendengarkan dan menjadi Sahabat terbaikmu.
(tweet diza_helga)

Aku tahu seberapa sakitmu. Tapi apa kau tahu rasa sakitku? Tentu saja kau tahu sahabtaku, hanya saja kau belum mengerti ketika aku terisak tangis.
(tweet diza_helga)

Jika suatu hari nanti kau baru menyadari sesuatu, percayalah aku masih seperti dulu. Menunggu dengan janji.
(tweet diza_helga)

Berharap kepada manusia itu tak baik. Manusia bisa membuat kecewa. Berharaplah kepada Allah. Dia akan menjamin umatNya. Berharaplah kepadaNya semoga yang diharapkan bisa diharapkan.
(updating FB Diza Helga Pataki)

Menerima keadaan bukan berarti menyerah,
melainkan berhenti sejenak untuk kuatkan hati.
Bukankah manusia wajib berusaha?
Lalu ketika usaha itu diberhentikan,
Apa manusia harus melawan?
(updating FB Diza Helga Pataki)

Banyak sekali posting-postingku di twitter dan facebook tentang perasaanku. Hanya dengan cara itu aku menikmati rasaku. Bidadari-bidadariku, Mery, Stefa, dan Ariqo selalu mendorongku untuk move on. Namun tak semudah itu. Semua perlu waktu.
Mereka adalah orang yang paling tidak rela dengan sikap Awan kepadaku. Bahkan mereka acuhkan dia di kampus. Tak pernah lagi ada canda. Jika awan bersikap dingin, mereka lebih dingin dari Awan.
Sejujurnya aku tak suka keadaan itu. Segala agenda menjadi kaku. Aku takut persepsi dia kepadaku semakin tak baik. Terlepas semua itu aku masih tak tega melihat dia kampus tanpa teman yang menyapa. Sepertinya dia hidup dengan dunianya sendiri.
“Sahabatku, Awan... bicaralah, ceritakan apa yang kau keluhkan. Sungguh aku ingin menjadi sahabatmu yang tulus” kataku dalam hati saat melihatnya di gazebo kampus.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar