CHUSNIA ILMA FRANCHOISE
Chusnia Ilma Franchoise,
Dulu pernah kudengar nama itu ketika aku mengungkapkan rasa lewat
pesan singkat kepadanya. Lalu nama itu terulang kembali setelah hubunganku
dengan dia berumur 2 bulan 15 hari.
Mungkin aku yang terlalu polos atau dia yang terlalu baik. Aku tak
mengerti beberapa pesan darinya yang menyebutkan kalimat ‘sahabat saling
menjaga’ yang dikutip dari Chusnia Ilma Franchoise. Aku masih tak curiga atau
bertanya. Aku hanya rasa bahagia karena agenda liburan bersamanya hari Rabu
kemarin. Setelah lama aku membaca dan memahami pesan-pesan yang berisi kalimat
filosofis, hatiku merasa ada yang aneh.
“Maksud pesan-pesan kamu kemarin apa? Aku tak mengerti, dan ada
beberapa nama yang tak asing lagi di telingaku” Tanyaku.
“Sahabat saling menjaga (^_^)” jawabnya singkat.
Dan masih aku tak memahami maksud dia sebenarnya. Aku hanya anggap
bahwa dia ingin bersahabat juga denganku. Sampai hari itu datang. Hari di mana
aku tak mampu membendung air mataku.
Ketika dia katakan ingin bersahabat dulu denganku. Dia rasa hubungan
yang dijalani denganku masih belum saling mengenal. Aku masih mengiyakan arah
pikiran dan keinginan dia.
Tepat hari Selasa pagi, aku disibukkan dengan hiruk pikuk agenda
bulan bahasa di kampus. Aku mendapat tamparan keras dari handphone yang
berdering. Kubaca pesannya yang menegaskan hubunganku dengan dia hanya sebatas
sahabat. Wanita mana yang tak menangisi itu semua. 75 hari berlalu dengan
hubungan yang maya.
Aku berlari ke ruang sebelah. Stefa dan Mery menyambutku dengan
pertanyaan-pertanyaan yang mengurai air mata.
“kakak.... ada apa? Ada apakah dengan Awanmu?” Tanya stefa.
Aku masih bisu dan tak kuasa menahan isak tangisku. Ku raih ponsel di saku dan kuberika
kepada mereka. Biar mereka membaca dan tahu alasan air mata ini keluar.
“Ya Allah kak diza, sabar ya! Kenapa di tengah-tengah kaya gini dia
baru membahas tentang ilma. Ini nggak adil kak...” jelas Mery.
“Rasanya nyeseg banget kak, aku baru sadar bahwa ini semua adalah
pangkal dari pesan-pesan filosofis dia kemarin. Ya Allah, bodoh sekali aku ini
baru menyadarinya” Kataku.
“coba nanti malam kamu telfon dia, luruskan semua ini agar semua
menjadi jelas. Kamu nggak sedih kaya gini. Ingat, kamu harus memperjuangkan
hubungan yang udah kamu rajut” Saran Stefa.
Aku tak menjawab apa pun. Hanya anggukan kepala yang mengisyaratkan.
Aku masih mencoba menata hatiku. Kusempatkan pikiran dan hatiku untuk tetap
berpikir positif terhadap dia. Sampai detik ini aku memang tak mampu berpikir
jahat. Apa ini karena cinta? Entahlah, cinta ini memang gila.
“Iya... mungkin dia masih trauma dan dia nggak mungkin menyakiti
perasaanku. Dia adalah orang yang mulia hatinya” kataku dalam hati yang mencoba
meredamkan luka.
Malam pun datang perlahan. Aku telah siapkan kata untuk bicara.
Malam itu aku dan dia berargumen perasaan. Sesakit apa pun kata dia harus aku
telan. Karena aku telah memilih untuk mencintai dia. Sampai akhirnya dia
katakan sesuatu yang sangat menusuk hati.
“aku masih sulit untuk membuka seseorang yang baru. Sampai saat ini
belum aku temukan figur seperti Ilma, dan baru aku temukan di angkatan semester
1, Rahma. Itulah figur secara fisik Ilma. Jika kamu memiliki aku, bolehkah aku
juga miliki Rahma?” katanya dengan begitu rinci tentang Ilma.
Aku masih tak mengerti maksud dari kata itu, meski aku tak mengerti
namun aku merasa kata-kata itu sangatlah menyakitkan. Tak perlulah dia tahu
seberapa sakitnya rasa yang aku rasa malam itu.
untuk menjabarkan semua rasa dan kata memang perlu bicara empat
mata. Aku dan dia mengagendakan untuk bicara dari hati ke hati agar semuanya
jelas. Dan aku menuggu hari itu dengan segala harapan dan doa.
“ya Allah, aku tak perlu khawatir karena Engkau selalu ada di
hatiku. Berilah kesabaran untuk bertahan. Engkaulah maha tahu niat hambaMu ini.
Lindungilah hamba yang tak mampu berpikir jahat.. amin” pintaku dalam hati di
setiap celah kegelisahan.
Menunggu 2 hari untuk agenda bertemu rasanya sangat lama. Aku dan
perasaanku benar-benar tak ada arah. Binar mataku pun tak bisa berbohong.
Seakan memberikan tanda ada yang kecewa.
***
“kutunggu di perpus pusat jam 3 sore” message darinya.
Saat itu aku sedang kemas-kemas bazar di gedung kesenian. Setelah
selesai aku bergegas menuju ke perpus. Sesampainya si sana aku melihat tempat
yang koranya masih kosong dan aman untuk bicara empat mata.
“aku udah di pepus, di dekat rak buku Fakultas Bahasa” kataku di
message.
“okay aku meluncur” jawabnya.
Akhirnya kita bertatap muka. Aku tak tahu memulai dari mana. Dia
yang memulai. Kudengar semua tentang ilma dan cerita lalunya
Ilma.... dia adalah mantan biarawati, dia merupakan keturunan dari
Pracis dan Thioghoa. Sebelumnya Ilma bernama Marie Xaveria Valentienne
Franchoise. Setelah masuk islam namanya berubah menjadi Chusnia Ilma
Franchoise.
Awan menegenal sosok ilma pada tahun 2008 di dunia Guide. Entah
berapa lama mereka menjalin hubungan. Sampai akhirnya Ilma menikah dengan Mr
Adrian dan menetap di Singapore.
Pada Bulan Februari 2011, Ilma mengirimkan surat ke Awan yang isinya
meminta saran untuk nama bayi yang akan dilahirkannya. Awan benar-benar cinta
mati dengan Ilma. Mungkin Ilma juga begitu. Entahlah. Tak ada yang tahu. Hanya
Tuhan yang Maha Tahu.
“ aku benar-benar gila, aku tak bisa lepas dari masa lalu itu”
katanya
“apa kamu pernah ungkapkan semua ini ke Ilma setelah dia menikah?”
kataku
“iya pernah, bahkan berulang kali”jelasnya
“jika dia bercerai, di mana pun dan kapan pun aku akan menjemputnya”
tambahnya.
Aku masih mencoba biasa dan menahan segala luka dan lara yang
kurasa. Tujuanku di sini, di hadapannya untuk menyelesaikan masalah. Tak bisa
aku hindari, sesekali dalam obrolan itu aku terdiam. Bukan aku yang tak bisa
bicara. Aku hanya menahan air mata agar tak terjatuh.
“aku mau hubungan kita tetap berjalan sampai akhirnya kamu bisa
melupa. Aku yakin kamu bisa jika berusaha” kataku lirih.
“jujur, saat ini aku sedang berada di persimpangan. Saat ini orang
tuaku ingin menjodohkan aku kembali” katanya.
“kamu pasti bisa melalui ini semuanya.
Cobalah dan niatkan lah untuk bangkit membuka lembaran yang baru. Aku akan
membantumu. Aku tak mau cerita yang kita jalani berhenti di tengah jalan. Sulit
sekali memberhentikan perasaanku” jelasku meminta.
“ Baiklah, satu yang aku inginkan. Jika
kamu miliki aku, bolehkah aku memilliki Rahma juga. Hanya dengan cara itu aku
bisa mengembalikan jati diriku yang dulu” jawabnya.
“maksudnya gimana? Apa kamu ingin
menjalin hubungan dengan Rahma?“ Tanyaku.
“Mungkin suatu saat nanti” jawabnya.
“Ya Allah, ya Tuhanku.... apa yang
sebenarnya aku dengar ini. Apa ini semua hanya mimpi buruk? Aku benar-benar tak
sanggup untu mendengar semua ini. Ini terlalu menyakitkan ya Allah. Tahukah dia
kalau hatiku ini teriris-iris” Batinku.
Namun aku tak akan ungkap semua jeritan
hatiku. Aku masih menahan air mata. Sekuat tenaga aku menahan sakit ini dan
tetap tegar berkata.
“lalu gimana dengan hubungan kita? Gimana dengan aku?” Kataku lirih
dan mengiba.
“itu pertanyaan yang paling aku takutkan, dan terucap juga. Sulit
sekali aku menjawab. Berilah waktu untuk berpikir dan menjawab” jelasnya.
“iya, baikklah. Kutunggu jawabnya”.
Kataku.
Obrolanku dengan dia telah usai. Senja mulai menyapa. Dia yang
mengajak untuk cukupkan obrolan itu. Aku juga udah gak kuat menahan tangis.
“makasih ya....” salam pamitku sebelum aku melajukan motor.
Aku segera meninggalkan tempat itu dengan melaju cepat dan cepat
sekali. Aku menghendaki sesuatu terjadi padaku. Braaaak dan akhirnya aku
terjatuh. Untung saja aku masih bisa menahan motor agar tak terjatuh. Kurasa
pinggulku nyeri, nyeri sekali.
Sesampai di rumah kulihat pesannya di Hp. Aku belum siap untuk
membalsnya. Aku masih sibuk menahan dan menyembunyikan rasa nyeri di pinggulku.
Aku tak mau Ibuku tahu tentang ini. Sudah berapa kali aku terjatuh dari motor.
Semua ceritanya tadi masih terasa jelas ngilu di hati. Ilma, ilma,
dan Ilma. Sesakit apapun yang kurasa aku masih belum sangggup untuk berpikir
jahat. Aku merasa harus menolongnya untuk keluar dari lingkaran masa lalu,
yaitu lingkaran Ilma.
Kutata nafas dan perasaanku sebelum aku membalas pesannya di Hp.
Kujelaskan segala rasa di dadaku saat aku mendengarkan ceritanya tadi. Hal yang
paling nyeseg, yaitu ketika dia katakan ingin menjemput ilma kalau ilma
bercerai.
“Apakah dia sama sekali tak peduli dengan rasa sakitku? Tidak...
tidak... dia hanya ingin katakan apa yang sebenarnya. Agar aku tak terluka
terlalu dalam” kataku dalam hati. Itulah pikiranku yang tak pernah bisa
menyalahkan.
Obrolan di message Hp semakin alot dan akhirnya dia memilih untuk
berada diam tanpa menentukan arah. Arah hubungan ini. Apapun status hubunganku
dengan dia sekarang aku masih dengan perasaan yang sama.
***
Semenjak itu aku dan dia semakin jauh dan kurasa dia semakin acuh.
Dingin dan lebih dingin dari kutub sikapnya kepadaku. Aku semakin shock saat
kuterima pesan darinya.
“satu musim ini akan aku gunakan untuk membersihkan nama baikku.
Semua dugaan dan rumor tentang kita telah didengar oleh teman-teman di BEM”
messagenya
“semua tak seburuk itu, semoga semua baik-baik saja. Setelah satu
musim itu kita tetap sahabatkan?” jawabku
Aku ikuti arah keinginannya. Jika dia mengingikan persahabatan, tak
apalah. Aku udah putuskan untuk menerima segala yang dia inginkan. Apa pun rasa
yang kudera, biarlah aku rasa. Jika rasa itu sakit, yang sakit juga diriku
sendiri kan??
Semakin hari semakin kurasa ada yang beda dengan dirinya dan suasana
kampus saat aku bertemu dengan dia. Kurasa aku perlu katakan sesuatu kepadanya.
Diam tak bisa menyelesaikan masalah. Momen KKN yang akan aku jalani dengan dia
pasti terasa beda jika aku hanya diam.
“sebelum KKN dimuali, jika dirasa aku menjengkelkan dan menyebalkan,
maafkanlah” kataku di message.
“iya sama-sama sahabatku” jawabnya singkat.
“semoga KKN-nya nanti menyenangkan” tambahku
“Semoga persahabatan ini tak pudar termakan waktu dan persoalan
apapun” katanya lagi.
Kini aku tahu apa yang ada di pikirannya. Aku juga tahu bagaimana
aku harus bersikap. Kusadari ceritaku bersamanya tidak berakhir tetapi berubah
menjadi Sahabat. Kurasa hanya itu. Iya, hanya itu selebihnya masih sama. Segala
rasa yang kurasa di hati masih sama. Aku masih mencintainya. Bukankah cinta itu
tulus tanpa harapkan sesuatu. Aku mencintai dia tulus apa adanya. Aku tak
mengharapkan dia mencintaiku juga. Karena cinta itu tulus.
Hari telah berlalu dengan suasana yang berbeda. Kurasa dia sekarang
lebih ramah dari biasanya. Kulihat matanya menyapa tanpa beban dan tekanan. Dan
aku suka melihatnya seperti itu.
***
Sahabatku,
aku akan membantumu untuk temukan apa yang membuatmu bahagia. Bahagia adalah
membuat kamu bahagia. Itu lebih dari cukup...
(tweet
diza_helga)
Katakanlah
dan ceritakan apa yang sedang kau rasa, percayalah aku akan mendengarkan dan
menjadi Sahabat terbaikmu.
(tweet
diza_helga)
Aku
tahu seberapa sakitmu. Tapi apa kau tahu rasa sakitku? Tentu saja kau tahu
sahabtaku, hanya saja kau belum mengerti ketika aku terisak tangis.
(tweet
diza_helga)
Jika
suatu hari nanti kau baru menyadari sesuatu, percayalah aku masih seperti dulu.
Menunggu dengan janji.
(tweet
diza_helga)
Berharap
kepada manusia itu tak baik. Manusia bisa membuat kecewa. Berharaplah kepada
Allah. Dia akan menjamin umatNya. Berharaplah kepadaNya semoga yang diharapkan
bisa diharapkan.
(updating
FB Diza Helga Pataki)
Menerima
keadaan bukan berarti menyerah,
melainkan
berhenti sejenak untuk kuatkan hati.
Bukankah
manusia wajib berusaha?
Lalu
ketika usaha itu diberhentikan,
Apa
manusia harus melawan?
(updating
FB Diza Helga Pataki)
Banyak sekali posting-postingku di twitter dan facebook tentang
perasaanku. Hanya dengan cara itu aku menikmati rasaku. Bidadari-bidadariku,
Mery, Stefa, dan Ariqo selalu mendorongku untuk move on. Namun tak semudah itu. Semua perlu waktu.
Mereka adalah orang yang paling tidak rela dengan sikap Awan
kepadaku. Bahkan mereka acuhkan dia di kampus. Tak pernah lagi ada canda. Jika
awan bersikap dingin, mereka lebih dingin dari Awan.
Sejujurnya aku tak suka keadaan itu. Segala agenda menjadi kaku. Aku
takut persepsi dia kepadaku semakin tak baik. Terlepas semua itu aku masih tak
tega melihat dia kampus tanpa teman yang menyapa. Sepertinya dia hidup dengan
dunianya sendiri.
“Sahabatku, Awan... bicaralah, ceritakan apa yang kau keluhkan.
Sungguh aku ingin menjadi sahabatmu yang tulus” kataku dalam hati saat
melihatnya di gazebo kampus.
***
orang kalau udah jatuh cinta itu buta dan bodoh! haha
BalasHapus